Gunung Rinjani merupakan kawasan konservatif Taman Nasional Gunung Rinjani yang dikelilingi oleh banyak desa di bawah kaki gunung. Dari sekian banyak desa yang mengelilingi kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, untuk sementara hanya dua pintu yang ditetapkan sebagai pintu masuk utama jalur pendakian ke Gunung Rinjani, yaitu Desa Senaru dan Desa Sembalun.
FLORA & FAUNA
Sebagai kawasan konservatif, Gunung Rinjani kaya akan varietas flora dan fauna yang masih alami. Tumbuhan perdu yang lebat dan pepohonan yang tinggi membentuk kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani sebagai hutan hujan.
Yang paling umum dijumpai di jalur pendakian adalah pohon cemara, klak, bunut/beringin, bajur, pandan, rotan, bunga anggrek, serta yang paling terkenal yaitu bunga abadi yang biasa disebut Edelweis.
Gunung Rinjani juga menjadi tempat tinggal berbagai jenis binatang seperti kera, lutung, rusa, babi hutan, berbagai jenis burung, landak, luwak, dan ular.
GUA SUSU
Sebagai kawasan konservatif, Gunung Rinjani kaya akan varietas flora dan fauna yang masih alami. Tumbuhan perdu yang lebat dan pepohonan yang tinggi membentuk kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani sebagai hutan hujan. Yang paling umum dijumpai di jalur pendakian adalah pohon cemara, klak, bunut/beringin, bajur, pandan, rotan, bunga anggrek serta yang paling terkenal yaitu bunga abadi yang biasa disebut Edelweis. Gunung Rinjani juga menjadi tempat tinggal berbagai jenis binatang seperti kera, lutung, rusa, babi hutan, berbagai jenis burung, landak, luwak dan ular.
Puncak Gunung Rinjani dan Gunung Baru Jari
Gunung Rinjani dengan titik tertinggi 3.726 m dpl mendominasi sebagian besar pemandangan Pulau Lombok bagian utara. Di sebelah barat kerucut Rinjani terdapat kaldera dengan luas sekitar 3.500 m × 4.800 m, memanjang ke arah timur dan barat.
Di kaldera ini terdapat Segara Anak (segara = laut, danau) seluas 11.000.000 m persegi dengan kedalaman 230 m. Air yang mengalir dari danau ini membentuk air terjun yang sangat indah dan mengalir melewati jurang yang curam.
Di Segara Anak banyak terdapat ikan mas dan mujair sehingga sering digunakan untuk memancing. Bagian selatan danau ini disebut dengan Segara Endut.
Di sisi timur kaldera terdapat Gunung Baru (atau Gunung Barujari) yang memiliki kawah berukuran 170 m × 200 m dengan ketinggian 2.296 - 2.376 m dpl. Gunung kecil ini terakhir aktif/meletus sejak tanggal 2 Mei 2009 dan sepanjang Mei, setelah sebelumnya meletus pula tahun 2004.[1][2]
Jika letusan tahun 2004 tidak memakan korban jiwa, letusan tahun 2009 ini telah memakan korban jiwa tidak langsung sebanyak 31 orang karena banjir bandang pada Kokok (Sungai) Tanggek akibat desakan lava ke Segara Anak.[3]
Sebelumnya, Gunung Barujari pernah tercatat meletus pada tahun 1944 (sekaligus pembentukannya), 1966, dan 1994.
Selain Gunung Barujari terdapat pula kawah lain yang pernah meletus, disebut Gunung Rombongan.
Upacara Mulang Pakelem di Gunung Rinjani
Pelaksanaan Upacara Mulang Pekelem di Danau Segara Anak Gunung Rinjani dimulai pada pertengahan abad ke-18, yang diawali dengan terjadinya kemarau (jeleng) yang sangat panjang yang mengakibatkan kekeringan di Lombok. Kondisi tersebut membingungkan para petani dan subak, diikuti dengan gagal panen dan munculnya wabah penyakit sehingga masyarakat banyak meninggal dunia yang menimbulkan penderitaan di Pulau Lombok yang tak kunjung henti.
Lombok pada saat itu diperintah oleh Raja AA Ketut Anglurah Karangasem yang merasa sangat sedih, bingung, dan panik atas musibah yang melanda tersebut. Menyikapi situasi tersebut, para rohaniawan mengadakan persembahyangan dan bersemadi memohon pertolongan kepada Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) di Gunung Sari pada Tileming Sasih Kapat (15 hari sebelum Purnama Sasih Kelima) tahun 1701.
Saat itulah para rohaniawan mendapatkan Sabda-Pawisik agar melaksanakan Yadnya Mulang Pekelem di Danau Segara Anak Gunung Rinjani pada Purnamaning Sasih Kelima untuk memulihkan kesejahteraan dan keseimbangan alam semesta beserta isinya di bumi Lombok.
Setelah dilaksanakannya Yadnya (upacara korban suci) ini maka hujan pun turun. Dengan turunnya hujan, para petani dapat kembali bercocok tanam dan kehidupan pun berangsur normal kembali.
Sejak saat itu Upacara Mulang Pekelem di Danau Segara Anak Gunung Rinjani selalu dilaksanakan setiap tahun pada Purnama Sasih Kelima (bulan Nopember) untuk memohon hujan agar mendapatkan kesuburan dan keseimbangan alam demi terwujudnya kesejahteraan kepada Tuhan.
Sarana pekelem yang dipakai adalah logam emas, perak, dan tembaga yang berbentuk binatang air seperti udang yang merupakan simbol Sabda, Peripihan (lempengan tipis) sebagai simbol Bayu, ikan Nyalian sebagai simbol Idep, Empas atau kura-kura sebagai simbol Pertiwi, yang dilengkapi dengan unggas. Melalui Upacara Mulang Pekelem diharapkan dapat mendatangkan anugerah dan kesejahteraan.
Pelaksanaan Upacara Mulang Pekelem dilaksanakan secara rutin setiap tahun sebelum musim tanam atau musim hujan, yaitu pada saat bulan bersinar penuh (Purnama) pada Sasih Kelima yang dihitung berdasarkan sistem peredaran bulan (Lunar System).
Jika dilihat berdasarkan kalender Masehi, pelaksanaannya berkisar antara akhir bulan Oktober hingga minggu kedua atau ketiga bulan November.
Untuk pelaksanaan upacara Yadnya ini dibutuhkan waktu kurang lebih satu minggu, mulai dari pendakian hingga turun kembali.